Tampilkan postingan dengan label percikan hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label percikan hidup. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Mei 2011

Melahirkan Jongkok -Sebuah Catatan Kelahiran-

Kemarin saya dan mama menjenguk tetangga saya yang baru melahirkan, bayi perempuan yang cantik sekali. Ah... keinginan saya memiliki anak timbul kembali, tapi bagaimana mungkin,,, sekolah saja saya sulit... Lho??? Hehehe maksud saya, bagaimana mungkin melahirkan anak, wong punya suami saja belum ada, belum ada yang mau menjadi calon investor :D

Ok back to the topic, ibu itu bercerita kisahnya melahirkan yang cukup menarik. Ibu itu bercerita kalau ia melahirkan di bidan. Cukup sulit prosesnya, sebab meskipun telah pembukaan 4, ibu itu tidak merasakan mules-mules seperti pada umumnya orang yang mau melahirkan. Dan anehnya lagi, air ketubannya tidak ada sama sekali. Kata bidan, mungkin air ketubannya sudah pecah dan sudah kering di dalam. Setelah cukup lama menunggu pembukaan, rasa mulas tersebut belum datang juga. Bidan pun menyuruh untuk mengejan. Kata bumil 'ibu hamil' "ya bu, gimana mau ngejan, sayanya aja gak mules" sebab ini bukanlah pertama kalinya ia melahirkan, jadi ia cukup tau bagaimana harus mengejan. Sekalipun ia mengejan, justru malah menyesakkan dada karena tidak ada perasaan mulas yang menimbulkan rasa ingin melahirkan. Subhanallah, begitu berat perjuangan seorang ibu yang ingin melahirkan. Karena belum berhasil juga, akhirnya bidan tersebut memanggil seorang bidan yang lebih senior alias jam terbang yang tidak di ragukan lagi. Setelah bidan itu di panggil, bidan tersebut menyuruh bumil tersebut untuk melakukan hal yang cukup ganjil, yaitu 'jongkok'. Ya, mencoba melahirkan dengan cara jongkok, menurut saya itu cukup ganjil, tapi terasa logis juga. Sebab ini seperti, maaf, orang yang ingin buang air besar. Sebab kalo saya pikir, kalau kita ingin buang air besar, ya kita tidak lakukan dengan berbaring kan,,, ya makanya di buat kloset dengan model duduk atau jongkok. Ibu hamil tersebut akhirnya menerima saran bidan tersebut, baginya bagaimanapun caranya, asalkan dia dapat melahirkan dengan selamat. Akhirnya, setelah ia jongkok, bayi itu dengan mudahnya keluar. Alhamdulillah, selamat. Lahirlah seorang bayi perempuan. 

Begitu cerita ibu yang baru melahirkan. Mungkin karena cerita ibu tadi yang cukup menarik, membuat mama saya tergerak untuk menceritakan kisah kelahiran saya. Saya dulu pernah mendengarkan ceritanya, saat mama melahirkan saya, namun tidak sedetil hari itu. Hari itu, tepat hari jum'at tanggal 3 Mei, sesaat setelah orang-orang pulang sholat jum'at, mama merasakan seperti sudah waktunya melahirkan. Akhirnya bapak keluar rumah untuk mencari taksi. ketika menunggu taksi, tetangga menyapa bapak, ya bapak mengatakan sedang menunggu taksi, sebab istrinya (mama) mau melahirkan, kebetulan bapak-bapak yang menegur bapak memiliki kendaraan kemudian menawarkan untuk mengantarkan ke rumah sakit. Akhirnya bapak dan mama di antarkan ke rumah sakit menggunakan mobil tersebut. Setelah sampai, mama masuk ke ruang persalinan. Suster yang memeriksa menyuruh menunggu dan mengatakan kalau kemungkinan lahirnya setelah ashar, itu artinya masih sekitar 2 jam lagi. Setelah itu suster tersebut meninggalkan mama di ruang bersalin, sedangkan bapak menunggu di luar. Namun tidak lama kemudian, sepertinya saya sudah tidak sabar untuk melihat dunia luar :D lahirlah saya ke muka bumi. Alhamdulillah. Bapak-bapak yang mengantar orang tua saya saja baru akan meninggalkan rumah sakit, begitu mendengar suara tangisan saya, langsung bilang ke bapak, kalau yang menangis itu adalah saya. bapak sempat tidak percaya sebab kata suster, kalau mama akan melahirkan setelah ashar. Akhirnya bapak masuk ke ruangan buat mengecek kebenarannya. Dan ternyata benar, mama telah melahirkan saya :) . Tidak sampai satu jam di rumah sakit. Hal yang mudah lainnya adalah biaya persalinan. Saat itu biaya persalinan normal pada umumnya berkisar 90ribu. Ternyata bapak hanya perlu membayar 19 ribu rupiah. Mungkin karena mama tidak memerlukan banyak tindakan dan infus. Semuanya begitu lancar.

Tidak lama kemudian mama di ijinkan pulang. Bapak pun mencari taksi di depan rumah sakit. Sungguh kebetulan yang merupakan takdir Allah, bapak menyetop taksi yang ternyata adalah tetangga rumah. Akhirnya kami naik taksi tetangga tersebut, dan bapak supir taksi itu tidak mau menerim ongkos taksi tersebut. Subhanallah, begitu Allah mudahkan proses kelahiran saya di hari jum'at yang penuh barokah. Semuanya begitu mudah, lancar dan murah. Hehehe... Ya gak banyak ngeluarin banyak biaya, alias banyak gratisnya :D . Padahal kata mama, sebelumnya bapak sempat bingung memikirkan biaya kelahiran saya dan biaya-biaya tak terduga lainnya nanti. Alhamdulillah, sebelum waktu kelahiran saya, bapak mendapat proyek yang cukup besar. Itulah perjuangan dan pengorbanan kedua orang tua saya. Sekalipun dunia dalam genggaman saya, tak cukup untuk saya membalas semua jasa-jasanya. Terima kasih pak, terima kasih mah. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada bapak-bapak yang telah mengantarkan ke rumah sakit, bapak supir taksi yang telah mengantar pulang, serta dokter, suster yang telah membantu persalinan mama. Semoga Allah meridhoi dan mencatat sebagai sebuah kebaikan

Senin, 11 April 2011

Esensi keyakinan

Bismillah...

Ku katakan, ini tentang sebuah keyakinan. sebuah keyakinan yang bersumber dari harapan dan ketulusan. sebuah keyakinan dapat memutuskan semua fakta dan logika, sebab keyakinan ini lahir dari sebuah bentuk ketakwaan, tumbuh dari sunnah, dan berkembang dengan iman. maka ku katakan, biarlah keyakinan ini tetap tumbuh dalam hatimu, meski dunia tampak tak berpihak padamu. Sebab kekuasan mutlak milik Allah. Biarlah keyakinan ini mengalir hingga waktu yang pada akhirnya menampakkan sebuah kesimpulan nyata, bahwa keyakinan ini akan bermuara kepada kenyataan dari sebuah harapan atau berakhir pada keikhlasan.
keyakinan ini masih berdiri kokoh, tegak menjulang, dengan segala ketidakmungkinannya, tak ada yang mustahil, sebab keadaan dapat berubah seketika jika Allah berkehendak. Maka tetapkanlah keyakinanmu, tetapkan ia hanya pada yang Satu. ukurlah kadar keyakinanmu, sejauh mana keyakinanmu hadir, sebesar apa keyakinan tumbuh, dan dimana semua keyakinanmu bermuara. Tanyakan pada hatimu. Adakah cela dari keyakinan yang kau harapkan? Benarkah keyakinan ini semua di lakukan dengan nama Allah, di jalan Allah, dan hanya untuk Allah?
Bertanyalah pada hatimu, tapi tunggu..... Apakah hatimu dalam kondisi baik? Apakah jiwamu dalam kondisi suci? apakah amal-amalanmu sedang meroket? sebab ini yang akan menjadi tolak ukur dasar keyakinanmu. 
Coba perbaiki lagi keyakinanmu, revisi lagi dasar-dasar yang kau bangun. Jika semua telah berjalan baik, maka tetapkanlah keyakinanmu pada pijakan yang benar, basic yang kokoh, selanjutnya adalah bentuk-bentuk upaya terbesarmu untuk mewujudkan keyakinanmu. Ku tahu, kau telah lelah dalam semua upayamu, telah jengah dengan semua penghalang dan cobaanmua, maka laksanakanlah upaya yang tak sulit ini. DOA. Ialah upaya yang tampak tak berguna bagi orang-orang tak beriman. DAHSYATNYA KEKUATAN DOA. yakini, bahwa Allah lah yang mampu membolak-balikkan hati manusia, mudah saja bagi Allah membuat semua impian dan harapanmu terkabul saat ini juga. Namun, Allah ingin melihat kau duduk, tersungkur, menghamba atas semua permohonanmu. Coba ingat, kapan kau terakhir kali melakukannya, kalau bukan karena harapanmu yang belum terwujud hingga saat ini... Akankah kau akan terus berdoa seperti saat ini, jika permohonanmu telah di kabulkan? Maka tetapkanlah hatimu, jiwamu dengan untaian doa dalam sujud-sujud panjangmu di malam-malam di mana Allah begitu dekat.
Saat ini semua hal masih tampak mungkin. Belum berkesudahaan, semua masih possible, meski telah tergambar sebuah keputusan dari manusia. Maka tetapkanlah keyakinanmu di dasarnya, gunakanlah kekuatan doa sebagai senjata utamamu, jika semua upaya tak menampakkan hasil, bahkan tergambar sebuah ketidakmungkinan. Dan jika semua hal telah kau kerahkan, keyakinan sudah mencapai titik kulminasi. Maka biarlah Allah yang memutuskan. Allah punya hak prerogratif atas setiap hambanya. Tahu apa kau tentang kebahagiaanmu, kebaikanmu. Allah lah penentu mutlak atas jawaban doa-doamu. Jika doamu berbuah terwujudnya harapan, jangan lupa untuk bersyukur, dan jika semua impian tak menjadi nyata, dasarkan semua pada kotak keikhlasan

Minggu, 06 Maret 2011

inikah akhir ujianku???

Mendung pagi ini menggelayuti kotaku. Sendu, mungkin itu juga yang mewakili kondisi tubuhku. setelah lebih 4 hari tergeletak lemah. Allah sedang memberikan ku bonus. Sebuah bonus dimana ketika keikhlasan itu hadir, maka akan menjadi penawar dosaku, bonus dimana aku dapat mengistirahatkan tubuh, dan bonus dimana aku dapat melakukan berbagai hal yang cukup sulit dan jarang aku lakukan dalam kondisi sehat (tak ada banyak waktu, itu alibiku), yaitu membaca, menulis, dan menghafal. Meski sambil berbaring, ku tuliskan semua kata yang bermain dalam benakku, meski hanya menggunakan handphone. 
Sesungguhnya ujianku yang terberat bukan pada rasa sakit ini, melainkan ujian keimanan yang hampir setahun ini menggelayutiku, dan puncaknya adalah dua bulan lalu, saat kondisi diri sungguh labil. Ah sebuah kesalahan yang kulakukan, padahal sejak dulu begitu mudah aku lawan. Hampir setahun aku mengisi hatiku dengan titik noda yang begitu tipis, hingga aku tak menyadari, kalaupun sadar dengan mudahnya terulang lagi. Ah betapa imanku hanya setipis kapas yang dengan mudahnya dihembus bujukan syetan. Allahu Akbar. Dan ketika syetan telah bermain dalam dadaku, ia akan mencoba untuk selalu menutupi kata hati ku. Dan mereka bertempur disana. Meski beberapa orang telah menasehatiku, entah atas dasar 'kebaikan' yang meluluhkanku. Kalau saja aku mendengarkan nasihat abi, untuk mengakhiri semuanya sejak awal, mungkin kejadian-kejadian dua bulan lalu tak perlu terjadi, dan akhirnya tak seperti saat ini. 
Akhirnya, akulah yang menjadi korban fitnah yang tak kusangka. Kurasa inilah takdirku, ketika takdir menyapaku melalui seorang wanita yang tak ku undang, justru mengundang ku. Akhirnya ku terima undangan itu, dan kumulai dengan pembicaraan hangat. Tak di sangka sebuah kalimat yang membuat aku seperti seorang tertuduh, akulah yang memulai, aku lah yang sebenarnya... Aku lah... Ah fitnah apa ini, mengapa jadi seperti ini pandangannya terhadapku. Akhirnya dengan segala keberanian, ku ungkapkan semua fakta yang ada. Sebenarnya ini tak baik, mengungkapkan sikap seseorang. dan ku yakinpun, penilaiaannya tentang ku pun akan menjadi buruk sebab bagaimana ia dapat menilai jika hanya mengenalku dari luar saja, dan tentu saja ia akan lebih mempercayai orang tersebut ketimbang diriku yang baru di kenalnya, tapi biarlah, biarlah orang menilai buruk tentangku, asal tak ada orang lagi yang 'tak sengaja ' mengobok-obok imanku. Ku bilang tak sengaja, karena ku yakin, itu hanya sebuah kekhilafan seorang anak manusia, dan biarlah karena kealpaannya, juga kekurang tegasnya diriku, membuat namaku tercoreng.
Biarlah ini menjadi pembelajaranku di kemudian hari. Tak perlu lagi kucari pembenaran yang ada, tak perlu juga ku minta ia yang telah mencoreng namaku memintanya memperbaiki namaku di hadap orang-orang tersebut, tak perlu ia mengatakan yang sebenarnya, jika hanya mengungkap kesalahannya di depan orang-orang. Cukup sampaikan saja kepada pemilik setiap jiwa. Sebab Ia yang lebih kecewa. Begitupun dengan diriku. Astagfirullahaladzim.... Astagfirullahaladzim... Setelah ini semoga tak ada lagi yang mencuri waktuku dengan perbuatan dan kata yang sia-sia, apalagi perbuatan dosa. Allahumma amin.

Selasa, 30 November 2010

Saya marah pada diri saya sendiri, Allah Maafkan saya

"Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. YUNUS:107)
Saya tersentak setelah membaca sebuah catatan yang di tulis oleh Mas Salim A Fillah dengan judul "Mencintai penanda dosa". http://www.facebook.com/home.php?#!/note.php?note_id=165007573540104
Catatan itu membuat saya terpaku seketika. Astaghfirullahaladzim.... Ya Robb, ampuni hambamu. Sungguh kisah itu begitu memberikan gambaran betapa manusia harus senantiasa menjaga iman di setiap waktunya. Sungguh luar biasanya manuver langit dengan membentuk sebuah mementum yang begitu singkat namun menghasilkan letupan dosa yang maha dahsyatnya .Sebuah takdir tuhan. Sepasang muda yang mempunyai niat yang suci, menjalani dengan cara yang baik, dan sangat menjaga adab, hanya karena suatu ketika saat waktu tak berpihak. Hanya karena keluarga calon pria tak bisa menemani, dan teman calon mempelai wanita yang telah di ajak untuk menemani tiba-tiba turun di tengah jalan karena suatu urusan yang mendesak. dan hanya melalui sebuah kecoa di kamar mandi, sebuah kesalahan besar di lakukan. Masya Allah.... betapa hamba yang membaca saja tak sanggup untuk menerima akibat-akibat yang di timbulkan. Memang semuanya adalah takdir, takdir yang begitu hebat menguji sisi keimanan manusia.
Lantas bagaimana dengan saya, yang iman saja masih bolong-bolong, yang hati kadang ternodai. Saya ingin teriak sekeras-kerasnya, saya ingin menangis sejadi-jadinya. Saya benar-benar marah pada diri saya sendiri. Kisah ini benar-benar menyadarkan saya untuk lebih baik lagi menjaga sikap. Allah telah menegur saya dengan cara yang begitu halus melalui tulisan tersebut.

Senin, 19 Juli 2010

Biar Cinta itu Bermuara Dengan Sendirinya

Kenapa tak pernah kau tambatkan.
perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu.
pelabuhan tenang yang mau menerima.
kehadiran kapalmu!
Kalau dulu memang pernah ada.
satu pelabuhan kecil, yang kemudian.
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?
Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.
( Judul Puisi ” Pelabuhan ” karya Tyas Tatanka, kumpulan puisi 7 penyair serang)
Matanya berkaca-kaca ketika perempuan itu selesai membaca dan merenungi isi puisi itu. Dulu sekali perempuan itu telah pernah berharap pada seorang laki-laki yang dia yakin baik dan hanif, ada kilasan – kilasan di hatinya yang mengatakan bahwa mungkin dialah sosok yang selama ini dicari.. dialah sosok yang tepat untuk mengisi hari harinya kelak dalam bingkai pernikahan.

Berawal dari sebuah pertemanan. Berdiskusi tentang segala hal, terutama masalah agama. Perempuan itu sedang berproses untuk mendalami agama Islam dengan lebih intens. Dan laki-laki itu, dia paham agama, aktif diorganisasi keislaman, dan masih banyak lagi hal – hal positif yang ada dalam diri lelaki itu. Sehingga kedekatan itu membawa semangat perempuan itu untuk terus menggali ilmu agama.dan mempraktekkannya dalam kesehariannya. Kedekatan itu berlanjut menjadi kedekatan yang intens, berbagi cerita , curahan hati, saling meminta saran, saling bertelepon dan bersms, yang akhirnya segala kehadirannya menjadikan suatu kebutuhan. Kesemuanya itu awalnya mengatasnamakan persahabatan.

Suatu hari salah seorang sahabatnya bertanya ” Adakah persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan dewasa tanpa melibatkan hati dan perasaan terlebih bila sudah muncul rasa simpati, kagum dan kebutuhan untuk sering berinteraksi?” Perempuan itu tertegun dan hanya bisa menjawab ” entahlah..”
Sampai suatu hari, laki-laki itu pergi dan menghilang… Awalnya masih memberi kabar. Selebihnya hilang begitu saja. Dan perempuan itu masih berharap dan menunggu untuk suatu yang tak pasti. Karena memang tidak pernah ada komitmen yang lebih jauh diantara mereka berdua. Setiap dia mengenal sosok lelaki lainnya… Selalu dibandingkan dengan sosok laki-laki sahabatnya itu dan tentulah sosok laki – laki sahabatnya itu yang selalu lebih unggul dibanding yang lain. Dan perempuan itu tidak pernah lagi membuka hatinya untuk yang lain. Sampai suatu hari,..
Perempuan itu menyadari kesia-siaan yang dibuatnya. Ia berharap ke sesuatu yang tak pasti hanyalah akan membawa luka dihati… Bukankah banyak hal yang bermanfaat yang bisa dia lakukan untuk mengisi hidupnya kini…. Air mata nya jatuh perlahan dalam sujud panjangnya dikegelapan malam… Dia berjanji untuk tidak mengisi hari – harinya dengan kesia-siaan.

“Lalu bagaimana dengan sosok laki – laki itu ?? “Perlahan saya bertanya padanya.
“Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa, yang salah hanyalah persepsi dan harapan yang terlalu berlebihan dari kedekatan itu, dan proses interaksi yang terlalu dekat sehingga timbul gejolak dihati…. Biarlah hal itu menjadi proses pembelajaran dan pendewasaan bagi saya untuk lebih hati – hati dalam menata hati dan melabuhkan hati,” ujarnya dengan diplomatis. Hingga saya menemukan perempuan itu kini benar – benar menepati janjinya.
Dunia perempuan itu kini adalah dunia penuh cinta dengan warna-warna jingga, tawa-tawa pelangi , pijar bintang dimata anak anak jalanan yang menjadi anak didiknya…. Cinta yang dialiri ketulusan tanpa pamrih dari sahabat-sahabat di komunitasnya yang menjadikan perempuan itu produktif dan bisa menghasilkan karya…cinta yang tidak pernah kenal surut dari kedua orang tua dan keluarganya… Dan yang paling hakiki adalah cinta nya pada Illahi yang selalu mengisi relung-relung hati..tempatnya bermunajat disaat suka dan duka… Indahnya hidup dikelilingi dengan cinta yang pasti.

Adakalanya kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang akan memberi sejuta makna bagi isi jiwa. Sehingga…. saat seseorang itu pun hilang begitu saja… Masih ada setangkup harapan agar dia kembali….Walaupun ada kata-katanya yang menyakitkan hati…. akan selalu ada beribu kata maaf untuknya…. Masih ada beribu penantian walau tak pasti… Masih ada segumpal keyakinan bahwa dialah jodoh yang dicari sehingga menutup pintu hati dan sanubari untuk yang lain. Sementara dia yang jauh disana mungkin sama sekali tak pernah memikirkannya. Haruskah mengorbankan diri demi hal yang sia-sia??
Masih ada sejuta asa…. Masih ada sejuta makna…..Masih ada pijar bintang dan mentari yang akan selalu bercahaya dilubuk jiwa dengan menjadi bermakna dan bermanfaat bagi sesama….
“Lalu… bagaimana dengan cinta yang dulu pernah ada?? ” tanya saya suatu hari.
Perempuan itu berujar, ” Biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya… disaat yang tepat… dengan seseorang yang tepat…. dan pilihan yang tepat……hanya dari Allah Swt. disaat dihalalkannya dua manusia untuk bersatu dalam ikatatan pernikahan yang barokah..”
Semoga saja akan demikian adanya… (sumber eramuslim)

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Diantara hikmah dari ayat ini adalah seorang hamba tidak boleh memiliki suatu pandangan yang mendahului keputusan Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau memilih sesuatu yang tidak Allah Subhanahu wa Ta'ala pilih,
serta memohon-Nya sesuatu yang ia tidak mengetahuinya. Karena barangkali di situlah kecelakaan dan kebinasaannya, sementara ia tidak mengetahuinya. Sehingga janganlah ia memilih sesuatu mendahului pilihan-Nya. Bahkan semestinya ia memohon kepada-Nya pilihan-Nya yang baik untuk dirinya serta memohon-Nya agar menjadikan dirinya ridha dengan pilihan-Nya. Karena tidak ada yang lebih bermanfaat untuknya daripada hal ini


Saudaraku..
Janganglah kamu memiliki pandangan yang mendahului keputusan Allah..
Jangan kamu sia-siakan waktumu untuk menunggu suatu yang tak pasti..
bila memang hatimu telah merasa ingin untuk menikah..
bila memang dia merupakan pilihanmu.
Cepat LAMARLAH..
Cepat katakanlah kepadanya.
Supaya dirimu ada kepastian..
Supaya dirimu tercegah dari dosa..
Agar tidak ada istilah Teman Tapi Mesra..
Supaya dirimu tidak dipermainkan oleh perasaanmu sendiri..
Bila kenyataan ternyata kamu tidak bisa bersatu dengan pilihanmu
Yang penting kamu sudah ikhtiar.
Yang penting kamu sudah ada kejelasan..
Agar tidak ada penyesalan dikemudian hari..
Agar kamu bisa melangkah lagi untuk mencari pasangan jiwamu..


Semoga kita bisa mengambil ibrah dari cerita ini..

Apabila salah satu pintu kebahagiaan tertutup, yang lain akan
terbuka tapi lazimnya kita kita akan memandang pintu yang telah
tertutup itu terlalu lama hinggakan kita tidak nampak pintu yang
telah pun dibukakan untuk kita

Tetaplah semangat dalam mencari pasangan jiwamu..
masih ada pintu kebahagian yang terbuka untuk kita

sumber: http://www.facebook.com/notes/khalid-bin-walid/biar-cinta-itu-bermuara-dengan-sendirinya/137793349583807

Jumat, 14 Mei 2010

jepretan pinggir jalan

beberapa waktu lalu pulang dari acara lamaran kakak sepupu, saya dan abang2 saya iseng foto2 di jalan. yah maklum saya berhasrat ingin jadi fotografer (yg amatiran aja belum kesampean). hari itu untuk pertama kalinya saya memegang kamera foto yg biasa digunakan fotografer profesional, kebetulan om baru aja beli (padahal beberapa hari yg lalu sempet ngayal punya tu kamera). untung aja abang saya cukup mengerti dengan penggunaannya (ternyata kamera yg bagus bisa jadi gak bagus kalo dipake sama yg gak ngerti, coz sebelumnya hasil jepretan saya nge-blur semua hiks...) nih beberapa hasil jepretannya saya dan Bang Boma.
Jepretan pertama ini diambil di perempatan blok-M biasanya kalo hari kerja, ni tukang tilang (bapak polis) biasanya berkeliaran disini. tapi dihari libur ini, ni bapak beraninya ngajak anak2-nya (btw ini anak2nya bukan ya) boncengan bertiga. mana gak pake helm lagi...
 
Jepretan kedua, yg ini lucu bgt ni (sedih jg c). Mungkin buat keluarga yg kehilangan sanak saudaranya. Foto ini diambil di sekitar blok A sebelum santa kalo dari blok M. 
 
Yang buat saya sedih. Hare gene, tambah banyak aja manusia yang tidak dapat menerima kenyataan dalam hidupnya. Ingatan saya tiba-tiba terbang ke 6 tahun silam. saat itu saya dikejutkan dengan cerita tetangga saya, ceu' Rat namanya. katanya di depan mushola dekat rumah, ada perempuan gila yg sedang tidur disamping ban mobil yang sedang diparkir dipinggir jalan. kami khawatir kalau perepuan itu tertabrak mobil atau berniat ingin bunuh diri. Dengan nekatnya, ceu rat membangunkan perempuan itu dan mengajak ke warung gado-gadonya. semula, perempuan itu menolak, namun setelah dibujuk, akhirnya dia menurut. saat di warung gado-gado tersebut saya menghampiri dengan perasaan takut, biasanya kalo orang gila, tindakannya tidak bisa diprediksi. Ceu' Rat memberikan makan dan minum, sedang saya hanya memperhatikan saja, dan tak berani dekat-dekat. lama saya mengamati wajahnya lekat-lekat. Rasanya saya mengenali wajahnya, tapi dimana ya?? Setelah memberikan amunisi makanan, ceu' Rat bertanya kenapa dia sampai seperti ini. Saya heran, masak orang gila diajak ngobrol... tapi diluar dugaan saya, ternyata dia tidak gila. buktinya dia tahu dimana dia tinggal, dan kenapa dia bisa sampai seperti itu. Perempuan yg usianya kira-kira 20 tahunan ternyata asli purwakarta. setahun yang lalu seseorang mengajaknya bekerja di jakarta. dia pun menurut karena di iming-imingi gaji yang lumayan. Ternyata setelah sampai di jakarta, laki-laki yang mengajaknya ternyata malah menipunya. Seluruh harta benda yang dibawanya diambil oleh laki-laki tersebut, dan dirinya ditinggal sendirian di terminal. Dia tidak tau apa yang harus dilakukannya di jakarta. untuk pulang kampung, dia memiliki ongkos, dan tentunya dia malu kalau harus kembali dengan tangan kosong. Akhirnya setelah lebih dari satu tahun, begitulah keadaanya sekarang. Dulu, ketika dia sampai di jakarta, pakaiannya masih lengkap dengan jilbabnya, sedang kini dekil bin kumel, hanya menggunakan baju dan celana pendek saja. Ketika ia bercerita, saya teringat pada perempuan gila yang berjilbab di depan kebun binatang ragunan, yang saya temui pulang dari 'atletik'. saya dan teman-teman mengejek perempuan itu saat dia bernyanyi. diapun menimpali ejekan kami sebagai candaan, sedang saya hanya tertawa-tawa menikmati hiburan tersebut (Astagfirullahaladzim...), ya maklum masih sma. saat saya dan teman-teman naik bis Kopaja 68, ternyata dia mengikuti kami. Semula kenek bis tersebut marah-marah karena nantinya akan mengganggu penumpang yang lain, tapi karena dia tidak mau turun, akhirnya dia dibiarkan duduk dipojok bangku belakang. Sampai di terminal Ps.Minggu saya dan teman-teman turun. saat saya menengok kebelakang, ternyata perempuan itu tertidur pulas. Setelah setahun berlalu, sungguh saya tak menyangka akan bertemu dia lagi. Dia tidak gila ternyata. Perempuan itu hanya tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi... 
Setelah ia menceritakan kisahnya, mama memberikan dia sebuah baju dan ia mandi di salon sebelah rumah. Setelah membersihkan tubuhnya, kami memutuskan memberikan uang untuk dia pulang ke kampung halamannya. Sungguh hari itu memberikan pelajaran berharga untuk saya. Menerima takdir, dan mengikhlaskan segala sesuatunya kepada Allah, akan jauh membuat kita menerima kehidupan ini dan menjadikan kesalahan sebagai pengalaman yang menuntun kita kepada kebenaran.
...back to photography
Itulah mengapa saya menyukai dunia fotografi, meskipun saya bukan orang yang pandai dalam pemilihan angle. Dari foto yang kita ambil, banyak ilmu yang kita dapatkan. dan kini berharap mendapat sebuah kamera foto (www.ngarepdotcom)